BANDA ACEH — Gelombang protes dan kritik tajam dari berbagai elemen masyarakat, pengamat hukum, hingga perwakilan parlemen kini tengah mengalir deras ke PT Solusi Bangun Andalas (SBA). Perusahaan produsen Semen Andalas tersebut dinilai lambat dalam mengantisipasi kelangkaan pasokan material yang memicu meroketnya harga pasar hingga menyulitkan pembangunan di Tanah Rencong.
Kritik keras salah satunya datang dari Lembaga Bantuan Hukum Tani Nusantara. Advokat Dr. Bukhari, MH, CM, mendesak Pemerintah Aceh untuk berani menegur keras PT SBA. Ia menilai perusahaan harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan lokal di Aceh secara mutlak sebelum melepar produk ke luar daerah, serta meminta pemerintah segera mengaudit pola distribusi demi mendeteksi adanya indikasi permainan oleh oknum distributor.
Sorotan tidak kalah tajam juga disampaikan oleh Anggota Komite II DPD RI, Azhari Cage, saat melakukan inspeksi mendadak ke pabrik SBA di Lhoknga. Azhari mempertanyakan kontradiksi yang terjadi: di satu sisi manajemen SBA mengklaim kapasitas produksi mereka justru meningkat, namun di sisi lain masyarakat di lapangan justru menjerit karena semen sangat langka dan mahal.
Ia mendesak PT SBA bertindak tegas dengan memanggil dan menindak distributor yang diduga sengaja mempermainkan harga di tengah situasi pemulihan pascabencana.Di media sosial, “serangan” keluhan netizen juga viral melalui poster kritikan seperti “BBM Antri, Semen Langka & Bahkan Mahal di Aceh”.
Warga mengeluhkan ketimpangan karena Aceh merupakan daerah penghasil komoditas energi dan memiliki pabrik semen mandiri, tetapi masyarakatnya justru harus membeli dengan harga melambung tinggi.Respons Manajemen PT SBAMenanggapi tekanan publik ini, General Manager PT SBA, R. Adi Santosa, menegaskan bahwa operasional pabrik sebenarnya berjalan normal maksimal dan tidak ada pengurangan produksi.
Lonjakan harga terjadi di tingkat pasar eceran akibat tingginya permintaan untuk proyek rehabilitasi pascabencana dan pembangunan daerah yang terserap sangat cepat.
SBA juga menegaskan bahwa mereka tidak menaikkan harga tebus dari pabrik. Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas krisis ini, PT SBA kini resmi memperpanjang jam operasional packing plant menjadi 24 jam serta mendatangkan pasokan semen curah tambahan menggunakan kapal laut dari luar daerah guna menstabilkan pasar.












