NEW

Buntut Anak Flexing 15 Jeriken BBM Saat Krisis, Pejabat Gayo Lues Aceh Mengundurkan Diri

×

Buntut Anak Flexing 15 Jeriken BBM Saat Krisis, Pejabat Gayo Lues Aceh Mengundurkan Diri

Sebarkan artikel ini

GAYO LUES – Sebuah kebiasaan pamer kekayaan atau flexing di media sosial kembali memakan korban jabatan publik. Dr. H. Nevirizal, M.Kes., M.H., yang menjabat sebagai Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Kabupaten Gayo Lues, secara resmi menyatakan mundur dari posisinya terhitung sejak Kamis, 23 Juli 2026

 

Keputusan besar ini diambil dr. Nevirizal setelah sang anak kandung, Dea Arranoya, menjadi pusat kecaman warganet. Dea kedapatan mengunggah konten yang memamerkan gaya hidup mewah, mulai dari perjalanan liburan ke Korea Selatan dan Eropa, nominal uang kuliah tunggal (UKT) yang fantastis, hingga tumpukan belasan jeriken bahan bakar minyak (BBM) di garasi rumahnya

 

Unggahan yang paling memicu kemarahan publik adalah foto barisan 15 jeriken berisi bensin di samping mobil mewah Mitsubishi Pajero. Dalam tangkapan layar yang viral, terdapat narasi bertuliskan, “papaku beli minyak 15 jirigen, tak tahu mobil mana lagi yang akan dipenuhkannya

 

Aksi pamer ini dinilai sangat tidak bijak dan minim empati. Pasalnya, wilayah Kabupaten Gayo Lues dilaporkan tengah mengalami kelangkaan BBM yang parah dalam sepekan terakhir, di mana warga harus mengantre berjam-jam di SPBU demi mendapatkan minyak. Tidak hanya itu, pamer kemewahan ini terjadi di saat masyarakat setempat masih terseok-seok berjuang memulihkan diri dari dampak bencana alam banjir bandang dan tanah longsor

 

Menanggapi kegaduhan tersebut, dr. Nevirizal sempat menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada pemerintah dan masyarakat Aceh. Ia mengaku lalai dan tidak mengetahui aktivitas media sosial anaknya

 

Terkait 15 jeriken BBM, Nevirizal berdalih terjadi kesalahpahaman. Ia menjelaskan bahwa minyak tersebut dibeli oleh Pemkab dari wilayah Aceh Besar yang dialokasikan khusus untuk operasional tim penanggulangan bencana saat ia masih menjabat sebagai Plt. Sekretaris Daerah

 

Namun, demi menjaga integritas institusi dan kepercayaan publik, dr. Nevirizal memilih meletakkan jabatannya.”Keputusan ini saya ambil dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab akibat munculnya perhatian publik terkait perilaku anggota keluarga saya yang menimbulkan polemik,” tulis Nevirizal dalam surat pengunduran dirinya

 

Tak lama setelah ayahnya mundur, Dea Arranoya juga melayangkan surat permohonan maaf terbuka di atas meterai tertanggal 22 Juli 2026. Ia mengakui tindakannya murni karena ketidakdewasaan dan kelalaian dalam bermedia sosial

 

Dea memastikan telah menghapus seluruh konten kontroversial tersebut dari akun pribadinya dan berjanji akan melakukan introspeksi diri agar lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya

 

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pejabat publik dan keluarganya di Indonesia agar lebih bijaksana dan menjaga tenggang rasa di ruang digital, terutama saat masyarakat sedang menghadapi masa-masa sulit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *